Tiba-tiba perutku mulas ketika menerima lipatan kertas itu. Merinding. Hawa ghaib seakan menyelimuti sekelilingku. Sepertinya, kertas itu memang benar-benar memiliki kekuatan. “Bawa ini kemanapun kamu pergi, Insya Allah selamat dan selalu aman!”, pesan temanku saat memberikan kertas itu. Perutku tambah mulas saat mendengar kata-kata aneh. Sepertinya sih bahasa Arab. Mungkin mantra keselamatan.
Sejak saat itu. Aku selalu merinding setiap melihat, mendengar apapun yang berbau arab. Apalagi kalau ada tetanggaku yang meninggal. Selama tujuh hari tujuh malam nggak bisa tidur. Sebab, selepas matahari terbenam, para tetangga berkumpul di kediaman keluarga yang sedang berduka, tentunya aku juga. Lalu kita membaca entahlah, aku nggak faham, katanya bahasa arab. Mungkin sudah menjadi adat setiap ada yang meninggal. Sedikit yang aku tau, apa yang di baca bersama, dihadiahkan kepada sang mayit. Penyelamat katanya.
“Eh Dan, kamu tahu Kyai Gala? Dia tuh bisa ada di banyak tempat dalam satu waktu, bisa ngilang, bisa terbang, dibacok nggak mempan. Kamu pengen seperti dia?”, kata temanku suatu hari dalam waktu senggangku.
“Dia orang Islam ya?”, tanyaku yang aku sendiri nggak tau kenapa nanya githu.
“Lha iya lah Dan, namanya aja kyai. Caranya gampang, ....... “. Temanku menyebutkan syarat-syarat yang nggak sedikit tanpa menghiraukan kalau aku nggak berminat sama sekali. Sebab hanya merinding yang aku rasakan. Perutku mulas.
***
Apa benar Islam mengajarkan itu semua?
Apa benar Islam hanya sebatas adzan, shalat, “tahlil”, haji, kuburan?
Apa benar Quran hanyalah sebuah mantra-mantra penyelamat?
Apa benar kita akan selamat hanya dengan “membaca Quran”?
Apakah Quran hanya sebatas pengusir syetan?
Apakah Quran hanya sebatas ... entahlah!!! Aneh!!!
Monday, June 18, 2007
Entahlah!
Posted by
D@nTey
at
12:27 PM
0
comments
Saturday, June 16, 2007
Bukan Sekedar Mantra
“Surely in the creation of the heavens and the earth, in the disparity of the night and day, in the ships that course in the sea with that which benefits people, in the water that Allah sends down from the sky, reviving with in the earth after it was barren, in His spreading in it all kinds of living things, in the changing of the winds and the subjected clouds between the sky and the earth, indeed are Signs for people who have understanding.” (al-Baqarah: 164)
***
“Saya menemukan kehadiran Islam di Barat tanpa kehadiran muslimin. Dan saya tidak menemukan Islam di Timur dengan kehadiran muslimin.” (Muhammad Abduh)
***
Sengaja saya sandingkan salah satu ayat yang berbicara tentang tanda-tanda kekuasaan tuhan, dengan statement seorang pembaharu Islam, penggagas gerakan modernisme Islam. Muhammad Abduh. Sebab, realita Islam yang terjadi sekarang, benar-benar semakin menguatkan pemikiran Abduh 100 tahun yang lalu.
Muhammad ibn Abduh ibn Hasan Khairullah, dilahirkan pada tahun 1849 Masehi bersamaan dengan 1265 Hijrah di Kampung Mahallat Nasr, Mukim Sujubrakhit, Daerah Buhairah, Mesir. Pernah diasingkan selama 6 tahun pada 1882 karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Libanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke Paris, dan bersama al-Afghani (seorang filosof dan pembaharu yang mengusung gerakan menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika) menerbitkan jurnal Islam “The Firmest Bond”. Beliau belajar filsafat dan logika di Universitas al-Azhar, Kairo.
Sobat, pernahkan kita berpikir seperti halnya Abduh menilai sebuah realita? Pernahkan kita bertanya-tanya, adakah Islam mengajarkan kita untuk memperhatikan alam semesta ini? Kenapa rahasia alam semesta ini bukan kita yang mengungkap. Ataukah kita, hanya menganggap Kitab Suci al-Quran hanya sebatas mantra. Al-Quran hanya sebatas bacaan untuk orang mati. Entah siapa yang pertama kali mengartikan bahwa kata “membaca”, hanyalah membaca. A adalah A, B adalah B, tanpa harus mengerti arti dari apa yang dibaca. Ternyata di dunia ini, ada sebuah agama yang memiliki Kitab Suci yang tidak memiliki makna. Sebab Kitab Suci tersebut hanyalah sebuah mantra.
Mari kita sama-sama menguak salah satu perintah Sang Maha Sempurna, untuk memperhatikan alam semesta. Pada ayat 164 al-Baqarah, Tuhan mengisyaratkan pada manusia bahwa pada penciptaan langit dan bumi adalah salah satu tanda kekuasaan-Nya bagi “orang-orang yang berpikir”. Kita semua tahu, siapa yang pertama kali berhasil menginjakkan kakinya ke bulan. Tiga puluh delapan tahun lalu, tepatnya 20 Juli 1969, Neil Amstrong dan rekannya Edwin Aldrin telah mencatat pertistiwa terbesar sepanjang sejarah perjalanan Amerika. Terlepas dari pro dan kontra atas kebenaran itu semua, paling tidak mereka telah berusaha untuk bisa membuktikan bahwa alam semesta ini memang benar-benar penciptaan yang spektakuler. Terlepas pula apakah semua itu hanyalah sebatas kepentingan politik Pemerintah Amerika untuk dunia atau kepentingan apalah namanya. Dan sepertinya saya tidak perlu menyebutkan satu persatu, keberhasilan Barat dalam menemukan hal baru dalam mengukir sejarah perjalanan hidup manusia. Kemampuan mereka benar-benar nyaris membuktikan kebenaran sebuah wacana bahwa, hanya Baratlah yang memiliki kemampuan menemukan hal baru “al-Ibda’”.
Sobat, dunia saat ini masih sedang sibuk menguak rahasia-rahasia alam. Kenapa kita malah sibuk ingin merubah agama kita, masih berbicara rekonstruksi, dekonstruksi, tawaran syari’at progressif, syari’at yang merahmati. Masih ingin membuktikan bahwa agama adalah candu. Masih baru ingin mengikuti jejak Eropa yang maju setelah melepaskan kehidupan mereka dari agama. Sobat, agama Islam bukan agama Kristen, bukan agama Yahudi. Dan kenapa kita masih hobi menghadirkan sebuah drama perjalanan sejarah Islam, dengan tampilan yang berbeda. Saling kafir mengkafirkan, saling merasa benar. Itu semua sudah sering dialami oleh Islam.
Bravo bagi sobat muslim yang sibuk menguak rahasia alam dan bergelut dalam dunia teknologi.
[Bawwabah, 14 Juni 2007]
Posted by
D@nTey
at
2:55 AM
0
comments
Saturday, June 9, 2007
Mekarlah Bungaku
kau datang dengan air mata
inginkan sesuatu
sesuatu yang tak bisa dinilai
sebab tak mungkin dimiliki
dengan tangis
saat kau belum mengerti
dan mungkin juga aku
dengan tangis
tidak untuk dirimu
saat kau masih berbicara cinta
berbeda tentunya dengan bahasa manusia
kau inginkan sebuah kasih sayang
dengan tangis
tidak semestinya kau memperoleh
dari kami yang tak mengerti
apa yang terjadi
sedang kau belum mengenal matahari
hanya gelap dan air mata
“Tidak, aku berhak!”
mungkin itu yang kau maksud
tentunya dengan tangismu
dan bahasa matamu
setelah kau bertambah umur
kau datang dan menanyakan kembali
adakah kasih sayang itu
kini, kau telah mengenal malam dan siang
beranjak dewasa
kau hiasi hidupmu dengan gelak dan tawa
sesekali dengan perih
tapi tak pernah kutemui lagi air mata itu
tangismu … bahasamu
kau tumbuh sebagai manusia tegar
tanpa tangis meski saat kau harus menangis
telah kau dapatkan kasih sayang itu
dari kami, dariku
mekarlah bungaku, adikku!
hiasi hidupmu, hidup ini penuh warna
Posted by
D@nTey
at
5:53 AM
0
comments
Saturday, June 2, 2007
Episode Jalur Terbang
[Sebuah Perjalanan][1]
Aku pernah memiliki keinginan menjadi penerbang ulung. Bulu-buluku terbuat dari sebuah zat yang disebut keratin, layaknya burung-burung yang lain. Bukan hanya itu, bulu-bulukupun memiliki ratusan duri kecil yang tumbuh di tiap sisi ruas. Duri-duri yang memberikan bentuk aerodinamik pada burung. Dan juga memiliki barbula[2]. Tidak berbeda dengan burung-burung yang lain. Itupun setelah melewati meditasi selama kurang lebih 6 tahun.
Aku sering terbang bersama sahabat-sahabatku. Diantara kami yang bisa mencapai ketinggian dan jarak tempuh lebih dari yang lain, dialah pemenang. Aku bukanlah burung yang memiliki alat terbang lebih unggul dari yang lain, alat terbangku bisa dikatakan lebih payah ketimbang teman-temanku yang lain, bahkan guru –terbang-ku pernah mengatakan bahwa aku bukanlah burung penakluk, aku tidak akan bisa mengimbangi burung lain, karena bulu-buluku tidak terlatih untuk menaklukkan ketinggian, meski terbuat dari bahan yang sama. Aku kurang mengerti apa yang dimaksud guruku. Aku tetap bersi keras untuk terbang bersama kawan-kawanku, yang –mungkin- hanya untuk mendapatkan gelar –yang terbaik-.
Mengikuti kelompok terbang tersebut, ternyata harus melewati sebuah seleksi. Aku dinyatakan tidak berhak mengikuti mereka. Alat terbangku tidak layak digunakan sebagai alat penakluk ketinggian. Aku harus kembali bermeditasi selama kurang lebih 6 bulan, itupun kalau aku mampu. Setelah 6 bulan, aku akan diuji kelayakan lagi, jika masih belum layak, maka out, dan gelarku sebagai burung akan dicopot. Fuih ... lumayan, masih mending daripada meditasiku untuk mendapatkan keratin dan barbula selama 6 tahun.
Tantangan yang membuatku lebih menegakkan kepala. Aku tidak mau diremehkan. Harga diri harus tetap dipertahankan. Aku akan tunjukkan pada mereka bahwa aku bisa menaklukkan ketinggian.
6 bulan terlewati. Aku diuji kembali. Surprise. Aku dinyatakan layak. Bahkan aku dikelompokkan dalam beberapa jenis burung yang bisa mencapai jarak 20.000 kilometer, yaa ... setengah jarak keliling bumi, memang wajar kalau kami belum bisa mencapai 40.000 kilometer, karena kami baru saja beranjak dewasa, dan belum pernah membelah samudera dalam jalur terbang kami. Kelompok tersebut adalah kelompok yang memiliki berat kerangka 4% sampai 7% dari seluruh berat tubuh, dan kebetulan berat kerangka tubuhku 4,9% dari berat tubuh, lebih berat sedikit dari kerangka burung merpati yang beratnya sekitar 4,4% dari berat tubuh. Entah apa yang membuatku dimasukkan dalam kelompok ini, padahal aku belum pernah mencoba terbang lebih dari 600 kilometer. Dan saat itu, jarak tersebut adalah terjauh bagiku, aku tidak akan mampu terbang lebih jauh lagi, karena aku tidak sanggup jauh terpisah dari ibuku. Entah kenapa, dada rasanya sesak kalau jauh darinya, atau mungkin aku dan ibuku adalah satu kesatuan yang tidak bisa terpisahkan. Dua raga dengan satu hati dan jiwa.
Tengtengteeng ... episode baru dalam hidupku dimulai. Banyak hal baru yang akan aku temui. Aku akan menempuh jarak 20.000 kilometer. Bersama teman-temanku. Sebelum kami memulai, pemimpin kami berpesan, “Di depan kalian, terdapat ribuan tantangan, kita akan istirahat setiap menempuh jarak 3.333 kilometer, maka kita akan istirahat sebanyak 6 kali sampai menempuh 20.000 kilometer. Dan di setiap peristirahatan, kalian akan diuji kelayakan apakah kalian masih mampu melanjutkan perjalanan selanjutnya. Seminggu lagi kita akan memulai, esok kalian akan diuji”. Malamnya, kata-kata sang pemimpin terngiang dalam lamunku. Aku berpikir, apa kira-kira tujuan semuanya, terlebih bagi mereka nantinya yang mampu meraih gelar -yang terbaik- diujung setengah perjalan kami.
Keesokan harinya. Sang pemimpin kembali memberi pesan sebelum kami diuji kelayakan, “Dalam perjalanan kalian, kalian tidak akan mendapatkan apa yang sebenarnya kalian inginkan, tapi kalian akan mendapat kunci untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan”. Pertanyaanku semalam, secara tidak langsung telah terjawab. Seolah sang pemimpin mengerti dan bisa membaca jalan pikiran para pengikutnya. Lalu, ujian dimulai.
Seminggu kemudian. Kurang lebih 50 kelompok burung berkumpul. Setiap kelompok terdiri dari 40 ekor. Kami, aku dan teman-temanku, akan kembali dikelompokkan dengan kelompok baru hasil ujian minggu lalu. Aku termasuk mereka yang beruntung. Aku termasuk burung-burung yang layak menempuh 20.000 kilometer. Hanya 600 dari kurang lebih 2000 burung yang dinyatakan layak menempuh jarak tersebut. Aku bercericit riang mendengar itu semua. Perjuanganku tidak sia-sia. Perjuangan yang harus sering menahan sesaknya dada karena jauh dari ibuku, membuahkan hasil. Ibuku pasti akan bahagia mendengar setitik keberhasilan dalam perjalanan hidupku. Dan lagi, aku dikelompokkan bersama burung-burung yang tidak perlu menempuh 20.000 kilometer untuk mendapatkan kunci, entah kunci yang bagaimana. Kelompok yang tidak perlu menempuh 3.333 kilometer pertama. Ya, aku hanya perlu menempuh jarak 16.667 kilometer untuk mendapatkan kunci tersebut. Tentunya hanya membutuhkan waktu lebih sedikit. Perjalananpun dimulai.
Pada jarak 9.500 kilometer, setelah dua kali peristirahatan, aku berhasil menempati urutan kedua dari kelompokku dan dari 600 burung yang lain. Yiehaa ... aku benar-benar mampu. Dan aku akan benar menjadi penerbang ulung. Penerbang yang “kemana-mana”. Aku yakin, 3.333 kilometer selanjutnya aku akan mampu menjadi yang terbaik dari 600 burung. Itu artinya, aku memiliki harapan untuk menandingi kecepatan terbang jenis Hirundapus Giganteus, yang kononnya adalah termasuk jenis burung yang terbang paling tercepat di dunia. Dan nyaris benar, setelah mendekati peristirahatan ketiga, aku tetap bisa mempertahankan urutan keduaku. Keyakinanku bertambah. Aku benar-benar akan menjadi yang terbaik pada putaran selanjutnya. Tapi sayang, 3000 kilometer selanjutnya, aku tetap pada urutan kedua. Ternyata, -yang terbaik- diantara kami terlalu tangguh untuk ditaklukkan. Aku gagal.
Tiba pada peristirahatan keempat. Aku mulai merasa jenuh dengan perjalanan. Bosan. Ada sisi lain dalam hidupku yang tak terpikirkan, aku merasa salah jalan. Aku ingin kembali. Aku tidak ingin melanjutkan perjalanan. Aku merasa, keinginanku menjadi yang terbaik, membuatku memikirkan diri sendiri. Aku menjadi egois. Dalam peristirahatanku, aku menjadi lebih termenung dan terdiam. Ada sisi lain yang belum aku pelajari untuk menjadi burung yang seutuhnya. Aku tidak lagi ingin menjadi yang terbaik dalam perjalanan tersebut. Aku ingin belajar memahami sekelilingku, aku ingin belajar tidak hanya memikirkan diri sendiri, aku ingin menjadi bagian denyut nadi sang alam. Selanjutnya, alam pikiranku menjadi tidak menentu, dan semakin kehilangan arah, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
Suatu hari, aku terkejut dan terpana melihat seekor burung yang sedang bercanda dan bernyanyi-nyanyi bersama kelompoknya. Entah apa yang membuat degup jantungku menjadi lebih cepat. Setelah aku bertanya-tanya kepada beberapa temanku, ternyata mereka adalah salah satu jenis burung air, Gallinula Chloropus. Susah ditemukan alasannya, mengapa aku tertarik. Selanjutnya, hari-hariku menjadi penuh dengan bayangnya. Aku benci.
Putaran ke-empat dimulai. Aku tidak lagi semangat seperti pada putaran sebelumnya. Aku terbang tidak secepat sebelumnya. Jiwaku menjadi tak menentu. Ketidak tentuan arah pikiran dan jiwaku sepertinya membawa dampak lain pada alat terbangku. Keteraturan yang ada pada otot-otot ketika terbang, mulai tidak menentu. Kerutan supracoracoideus (otot dada kecil) saat sayap terangkat tidak lagi maksimal. Begitupun sebaliknya, pada saat sayap diturunkan, pectoralis major (otot dada besar) tidak mengendur maksimal. Itu semua menjadikan kecepatan terbangku tidak seperti sebelumnya. Aku nyaris terjatuh.
Dan akhirnya terbukti. Pada akhir putaran ke-empat, aku tidak lagi berada pada urutan ke-dua. Di kelompokku sendiri, aku berada pada urutan terakhir, bagaimanan tidak, kelompokku adalah mereka yang berada pada urutan 1-40, dan sekarang aku berada pada urutan ke 55. Jangankan di kelompokku, pada kelompok dua pun aku bukan pada urutan pertama. Aku benar-benar bukan aku yang dulu, aku yang ingin menjadi yang terbaik. Tapi sepertinya aku masih ingin menjadi yang terbaik, dari sisi hidup yang lain, menjadi aku sendiri. Bukan untuk menjadi orang lain.
Pada perjalanan selanjutnya, aku tidak lagi terbang bersama kelompok pertama. Itu berarti, untuk menjadi yang terbaik, aku harus mengembalikan keteraturan sistem terbangku dan menghapus bayangan seekor burung Gallinula Chloropus. Dan aku harus bisa mengembalikan kemampuanku.
Singkat cerita. Aku berhasil menempati urutan 10 burung pertama. Tapi hal tersebut tidak membuatku gembira. Justru lebih membuatku sering termenung. Ya, aku tidak bisa lagi terbang secepat dulu. Aku berada pada persimpangan jalan. Aku tidak mampu menentukan arah jalur terbangku selanjutnya. Aku terpuruk. Kemampuanku menempuh jarak 20.000 kilometer tidak membuatku mampu menentukan arah. Lalu entah apa selanjutnya yang membuatku kemudian menentukan arah untuk terbang menaklukkan samudera menuju utara dari tanah kelahiranku.
Memori itu masih kuat melekat dalam pikiranku. Tapi realita memaksaku hidup pada hari ini, detik ini, bukan pada masa lalu. Aku kembali menjelma sebagai manusia. [June, 02 2007]
____________________
[1] Terima kasih ibu, yang selalu setia menemani perjalanan hidupku. Yang selalu membantu aku terjaga dari keterpurukan.
[2] Helain halus pada duri kecil yang tumbuh di tiap ruas pada bulu burung.
Posted by
D@nTey
at
11:48 AM
0
comments
Sang Harapan
Selamat datang di dunia kedua sang manusia, adek kecil. Meski aku belum pernah menyaksikan langsung saat-saat dimana kau tertawa riang, tanpa beban. Bagaimana kau menangis kehausan karena panasnya alam baru yang kau kenal. Bagaimana engkau tertidur lelap, setelah tiap beberapa jam kau mempelajari sekelilingmu, mencari makna semuanya. Tapi kau selalu hadir dalam sanubariku, dalam doaku.
Meski saat ini, kau belum mengenal bahasa manusia. Aku yakin, kau telah mengenal bahasa cinta. Cinta yang benar-benar sejati. Cinta yang akan membuatmu tegar, kuat, siap menantang hidup. Tetaplah kau perhatikan tiap fenomena di sekelilingmu, simpanlah dalam sanubarimu, kau harus menjadi manusia tegar. Kau adalah harapan.
Jadilah seperti Saddam, singa padang pasir, yang selalu menjadi singa kapanpun dan dimanapun. Saddam yang tetap singa hingga saat berhadapan dengan tiang gantung. Demi martabat dan kehormatan sebuah bangsa.
Jadilah seperti Zaid bin Tsabit, yang tekun, sehingga bisa menguasai bahasa asing dengan waktu yang sangat singkat.
Adek! Hidup ini penuh teka-teki. Hidup ini bukan kita yang inginkan. Bukan kita yang memiliki niatan untuk hidup. Hidup ini adalah amanah. Kita harus jalankan hidup ini dengan kepala tegak. Setiap kita telah memiliki tugas masing-masing. Hanya kita yang bisa menjadikan hidup kita menjadi benar-benar ada.
[ Firja, cepet gede ya! ;) ]
Bawwâbah, di awal 2007
Posted by
D@nTey
at
11:39 AM
0
comments
Saturday, April 14, 2007
Jangan Sampe Deh
“Menurut kamu cinta tuh gimana Dan?”
Ufh...aku kira temenku satu ini, ngajak pergi ke pinggiran Nil untuk ngobrolin apaa githu? Eh nggak taunya. Nggak disangka-sangka lagi, pertanyaan itu bisa muncul dari mulut “nggak banget” dia yang biasanya dingin ama yang namanya kaum hawa. Biasanya dia tuh selalu nyebut-nyebut Dan Brown si penulis Da Vinci Code yang best seller itu. Sampe aku eneg ngedengernya. Kadang juga ngobrol tentang Fatima Mernissi si pejuang feminis Maroko. Yang menurutnya, berkat jasa dialah batas-batas tembok harem bisa di luluh lantakkan. Harem adalah variasi kecil dari kata harâm (yang dilarang), harem adalah tempat dimana sebuah keluarga menempatkan beberapa istri, anak-anak, dan saudara-saudara perempuannya. Dan tentunya mereka tidak bisa setiap waktu keluar dari tempat tersebut, kecuali ke tempat tertentu, itupun harus memakai hijab tradisional (sebuah kain katun putih berbentuk segi empat yang begitu berat sehingga membuat si pemakai susah bernapas) dan haik, atau jellaba. Itu Maroko dulu. Dan kita kalo dah cerita tentang yang satu ini, biasanya kita sama-sama mencoba untuk terbang menembus waktu pergi ke jaman dimana Mernissi menceritakan bagian kehidupan Maroko di pertengahan abad 20. Tentunya kita menjelma menjadi orang Maroko, dimana banyak kaum lelaki yang memiliki banyak istri. Ternyata nggak enak.
“Hei...ngelamun! Jawab pertanyaanku!”, kelamaan mikirnya kali ya aku, lagian sih dia nanya yang nggak disangka-sangka.
“Hehe...Baru putus cinta ya?”, sengaja aku bertanya model githu, biasanya cowok paling nggak suka kalo dibilang putus cinta, maunya dibilang mutusin, bukan diputus. Nah kalo ditanya githu, tentunya dia ngerasa nggak enjoy lagi ngobrol begituan, so bisa ganti topik.
“Emang kamu pernah nemuin tanda-tanda aku jatuh cinta Dan?”, wah sepertinya Jaka pengen nyebarin virus neh. Virus “life without love”. Sepertinya sih, sebab sedikit yang aku tahu, dia tuh anti banget yang namanya cewek. Padahal dia nggak jelek-jelek amat, lumayan berada lagi. Malah bisa dibilang tiap cewek yang ketemu ma dia, bisa langsung klepek-klepek. Sifat dinginnya bukan berarti dia nggak laku, tapi entahlah mengapa. Mungkin malam ini aku tahu jawabannya.
“Yaa...enggak sih. Tapi ntar dulu, kamu kenapa ngajak aku ngobrolin beginian, padahal kamu juga tahu sendiri kalo aku nggak banyak tau tentang itu, aku juga nggak jauh beda ama kamu, dingin ama cewek, cuman bedanya, dinginnya aku ama dinginnya kamu beda, bedanya kalau aku dingin ama cewek, karena dah yakin kalo banyak ditolaknya, udah wajah jauh dari ganteng, kere, nggak da yang bisa dibanggain lagi. Jadi normal kalo aku dingin ama cewek. Kalo kamu...wah tuh dia yang aku nggak tau Jak, emang napa sih, kamu dingin ma cewek?”, males berbelit-belit, langsung to the point aja deh. Biar langsung tau jawabannya.
“Sok dingin.... Kamu percaya nggak Dan, kalo aku bisa hidup tanpa cinta?”, wah bener deh, dia kayaknya pengen aku ngedukung jargonnya neh, seperti dia yakin kalo aku satu spesies ma dia. Maksudnya spesies yang bisa hidup tanpa cinta, bukan spesies yang bukan-bukan.
“Cinta tuh bikin hidup kita nggak abadi. Cinta bikin hidup jadi cengeng. Cinta bikin hidup jadi sempit. Cinta bikin hidup jadi sengsara. Cinta bikin hidup jadi singkat. Cinta bukan segalanya untuk bisa membuat hidup menjadi bahagia, justru tanpa cinta kita bisa hidup bebas sebebasnya”, wah kok bisa ya orang seganteng Jaka bisa mengkutuk cinta sampai segitunya.
“Itu kan kalo cintanya ditolak Jak. Kalo sama-sama cinta, enak atuh, dunia serasa milik berdua”, padahal aku sendiri nggak tau sih enaknya segimana. Sampe-sampe aku dijulukin Dokter Jomblo ama temen-temen. Malangnya nasibku.
“Pernyataan itu malah untuk cinta yang nggak bertepuk sebelah tangan Dan. Cinta yang mencintai dan dicintai”, wah kalo Jaka yang bilang githu, gimana mau nggak percaya. Percaya kalo dia pernah mencintai dan dicintai. Tapi kalo pernyataan dia bahwa mencintai dan dicintai itu bisa membuat hidup sengsara, ne dia yang aku nggak nyampe.
“Sengsaranya dimana Jak? Bukannya malah enak mencintai dan dicintai? Mungkin ceweknya banyak ngatur kali Jak, makanya kamu ampe bilang kalo tanpa cinta kita bisa hidup bebas sebebasnya”.
“Mencintai dan dicintai disini, maksudnya tuh cinta tanpa cacat Dan, saling menerima apa adanya, nggak menuntut apa-apa, wes pokoknya cinta perfek lah”.
“Nah kalo cintanya perfek, sengsaranya mana Jak?”
“Sengsara karena pasti akan kehilangan. Dan lagi, membuat orang jatuh cinta kepada kita bukanlah hal yang sulit, namun bagaimana membuat cinta itu sendiri tetap hidup, karena cinta memiliki sayap-sayap, ia datang dan pergi” ...
“Hei Jak Jak ... arah jam sembilan. Ini baru tanda kekuasaan Tuhan Jak”, keliatan norak deh kayaknya aku. Soalnya ketemu ama cewek cakep di Mesir tuh kayak nemuin pasir di gurun.
“Udah deh Dan, mendingan lo hidup sendiri, nggak da beban, enak, bahagia, nggak da pikiran, mencintai dan dicintai tuh nggak enak, ashli bis shâd, mendingan lo ngejomblo seumur hidup, lagian lo ada tampang banget kalo jomblo, nggak layak dicintai, bener juga yang lo bilang tadi, dari lo tuh nggak da yang bisa dibanggain, kere lagi, asli deh, jangan sampe lo suka ama cewek, kasian ceweknya”
“Wuaaaaaaaaaaaaaa......”, yaah harus mandi deh, kayaknya tadi nggak ngapa-ngapain, cuman ngeliatin aja. Acara yang beginian neh yang paling nggak banget, pagi-pagi harus mandi. []
Posted by
D@nTey
at
12:38 AM
1 comments
